MAKNA QURBAN
QS Alkautsar 1-3
Saat ini kita tengah berada di awal bulan Zulhijjah 1429 H, bulan yang terakhir dalam perhitungan tahun Islam. Pada bulan ini saudara-saudara kita yang mampu sedang berkumpul di Makkah untuk bersiap-siap melaksanakan ibadah haji yang puncaknya adalah wuquf di Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah nanti. Bagi kita yang tidak melaksanakan ibadah haji kita disunnahkan berpuasa sunnah pada tanggal 8 dan 9 Zulhijjah yaitu puasa hari Tarwiyah dan hari Arafah. Tentang keutamaan puasa sunnah itu Rasulullah bersabda :
Dan pada tanggal 10 Zulhijjah kita merayakan IDUL ADHA atau hari raya QURBAN karena setelah kita melaksanakan sholat IDUL ADHA kita diperintahkan melaksanakan UDHIYAH atau penyembelihan hewan QURBAN dan juga pada hari ke-11 s.d hari ke 13 yang dinamakan hari-hari tasyriq. Hukujm melaksanakannya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat kuat) sebagimana yang telah dicontohkan oleh nabi Ibrahim AS ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya Ismail AS untuk menguji keimanannya. Tetapi akhirnya Allah menggantinya dengan seeor kambing. Kemudian nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu setiap tahun yang juga diteruskan oleh nabi besar Muhammad SAW.
Nabi bersabda :
Tujuan dari qurban itu sesuai dengan namanya ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Keutamaan qurban banyak sekali diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Siti Aisayh RA :
mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya karena mereka menganggap bahwa dengan harta yang banyak mereka bisa berbuat apa saja. Ada yang berusaha untuk mengejar pangkat yang setinggi-tingginya karena dengan pangkat itu mereka menganggap akan bahaga. Tetapi apa yang diharapkan ternyata tidak diperolehnya karena semakin mengejar harta manusia semakin berkurang. Seandainya mereka sudah memiliki satu gunung emas pasti ingin gunung yang kedua dst.
Kebahagiaan dalam pandangan Islam itu tidak hanya dari segi jasmani tetapi juga rohani karena kebahagiaan dalam Islam itu tidak hanya kebahagiaan di dunia tetapi juga kebahagiaan di akhirat sebagaimana doa yang selalu kita ucapkan :
Islam adalah agama yang universal yang tidak hanya diperuntukkan untuk kepentingan dunia tetapi juga untuk kepentingan akhirat : QS Alqasas 77.
Rasulullah juga bersabda :
”Bekerjalah untuk duniamu dst.”
Jadi tidaklah benar jika ada yang mengatakan bahwa Islam hanya ditujukan untuk kepentingan akhirat atau sebaliknya.
Tetapi apapun yang kita usahakan tidak boleh bertentangan dengan aturan-aturan Allah SWT. Karena semua yang diperbuat oleh manusia di dunia ini akn dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.
”Hiduplah sesuka hatimu dst.
Selama manusia mengikuti atiuran-aturan Allah pasti akan selamat dunia dan akhirat dan sebaliknya apabila manusia keluar dari ketrentuan Allah pasti akan celaka baik di dunia maupuj di akhirat.
Oleh karena itu marilah kita menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat agar kita memperoleh kebahagiaan yang hakiki yaitun kebahagoiaan kahirat.
QS Albaqoroh : 197 QS Ali Imran 183
Ibnu Umar berkata :Jadilah kamu di dunia ini sepetrti orang Asing atau pengembara yang pada satu saat akan kembali”Nabi bersabda :”Dunia ini hanyalah ladang untuk bercocok tanam untuk kepentingan akhirat”
Islam adalah agama dakwah yang ditujukan untuk semua manusia agar meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Ummat Islam diwajibkan untuk berdakwah di mana pun berada sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing. Qs. Annhl :125 "Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu(Islam) dengan hikmah (alquran)dan dengan nasihat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik"
Rabu, 27 Juli 2011
MAKNA HIJRAH
MAKNA HIJRAH
Saat ini kita berada di hari pertama bulan Muharram yang berarti kita tengah memasuki tahun baru Islam 1431 H. Setiap kita memaasuki tahun baru Islam kita kembali diingatkan kepada suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah perjuangan Islam yaitu peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW beserta kaum muslimin lima belas abad yang lalu. Peristiwa itulah yang dijadikan awal perhitungan tahun Islam (عام هجري) atau kalender Miladiyah (ملادي تقويم ).
Peristiwa ini merupakan puncak kegetiran dan kesengsaraan yang dialami oleh Rasulullah SAW beserta kaum mulimin dalam membela dan mempertahankan Islam. Karena pada masa itu keadaan kaum muslimin benar-benar merasa sangat menderita dan terancam hidupnya yang kian hari selalu dimusuhi oleh kaum kafirin dan kaum musyrikin di Makkah. Kebencian mereka semakin meningkat setelah mereka mengetahui jumlah kaum muslimin semakin bertambah. Mereka tidak segan-segan melakukan penyiksaan terhadap kaum muslimin bahkan tidak sedikit kaum muslimin yang dibunuh secara keji (diseret di tengan terik matahari di padang pasir, disiksa dengan besi panas, ditombak perutnya dsb.). Keadaan inilah yang menyebabkan kaum muslimin merasa sangat ketakutan dan mereka selalu berusaha untuk menyelamatkan diri dengan berbagai cara sehingga Rasulullah merasa sangat sedih dan beliau memerintahkan kaum muslimin untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman yaitu Madinah (Yatsrib pada waktu itu). Tentu saja ini merupakan pekerjaan yang tidak ringan dan sangat mengerikan karena disamping jarak yang mereka tempuh sangat jauh (+ 500 km) dan tanpa kendaraan juga sangat berbahaya jika diketahui oleh kaum kafirin dan kaum musyrikin. Tetapi demi mempertahankan keyakinan terhadap Islam, meraka rela melakukannya meskipun mereka harus meninggalkan kampung halamannya, sanak keluarganya, rumah dan tanahnya serta seluruh harta benda yang dimilikinya. Selama berhari-hari mereka menempuh perjalanan yang sangat melelahkan dengan berjalan kaki atau dengan seekor unta dalam keadaan yang penuh ancaman. Dalam perjalanan ini tidak sedikit kaum muslimin yang meninggal dunia baik karena terbunuh atau karena kehabisan makanan dan sakit. Siang dan malam meraka melewati gunung-gunung, bebatuan yang terjal, padang pasir yang luas di bawah teriknya matahari atau di bawah derasnya angin malam.
Bagaimana dengan Rasulullah ? Beliau adalah orang yang terakhir melakukan hijrah. Ini membuktikan bahwa beliau adalah seorang pemimpin sejati yang tidak mementingkan diri sendiri. Beliau lebih mementingkan keselamatan kaum muslimin daripada keselamtan dirinya sendiri. Beliau baru akan melakukan hijrah setelah kaum muslimin yang lain telah berhijrah. Beliau rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan kaum muslimin. Keadaan ini diketahui oleh kaum kafirin dan kaum musyrikin Makkah sehingga mereka bersepakat untuk membunuh Rasulullah SAW. Meraka beranggapan dengan membunuh Rasulullah maka habislah Riwayat Islam. Sebelum melaksanakan aksinya terlebih dahulu mereka melakukan pertemuan tertutup di suatu tempat yang bernama ’Darunnadwah’ untuk menyusun rencana jahat mereka. Dalam pertemuan itu mereka menentukan para ekskutor yang terdiri dari perwakilan setiap suku yang ada di Makkah. Dan pada suatu malam yang telah mereka tentukan mereka melakukan pengepungan terhadap rumah Rasululla dengan persenjataan yang lengkap. Rasulullah pada waktu itu sedang bersama kemenakannya yaitu Sayidina Ali RA. Setelah beliau tahu akan hal ini beliau pun memerintahkan Ali untuk memakai sorbannya sebagai selimutnya sehingga para pendekar itu tidak menyangka kalau Rasulullah telah keluar pada malam itu. Dengan izin Allah beliau pun keluar melalui pintu belakang dan menuju rumah Abu Bakar Siddiq untuk segera berangkat hijrah pada malam itu dengan terlebih dahulu bersembunyi di gua Tsur selama tiga hari tiga malam. Tentu saja hal ini membuat panik para algojo yang ditugaskan untuk membunuh Rasulullah. Lalu mereka mencari ke sana ke mari tetapi tidak juga mendapatkannya meskipun mereka sempat berada di muka gua itu. Betapa takutnya Abu Bakar ketika melihat beberapa orang kafir berada di depan gua itu sehingga Rasulullah berkata :
”Wahai Abu bakar, kita memang berdua. Tetapi Allah adalah yang ketiga”
Ucapan ini pun diabadikan dalam Alqur’an Surat Attaubah : 40 :
”...janganlah kau takut dan janganlah kau bersedih sesungguhnya Allah bersama kita. Lalu Allah memberian ketenangan kepada mereka dan menambah kekuatannya dengan mengutus bala tentara yang tidak diketahui oleh mereka”
Begitulah penderitaan yang dialami oleh Rasulullah SAW beserta kaum muslimin pada masa itu dalam membela dan mempertahankan Islam.
Hal itu merpakan konsekwensi dari setiap orang beriman :
QS Alankabut ayat 2 dan 3 :
”Janganlah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ’kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka agar Allah mengetahui siapa sesungguhnya orang-orang yang benar dan siapa sesungguhnya orang-orang yang berdusta”
Bagaimana dengan kita saat ini? Apa yang telah kita perbuat untuk membela agama Islam? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Marilah kita melakukan hijrah bukan dalam arti pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Tetapi kita berhijrah yaitu dengan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT sesuai dengan sabda nabi :
”Orang-orang yang berhijrah itu ialah orang-orang yang mau meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah”
Marilah kita menjadikan momen Hijriyah ini untuk melakukan introspeksi berapa banyak amal yang telah kita lakukan dan berapa banyak kesalahan yang pernah kita lakukan. Marilah kita selalu mengaudit amal kita sepanjang hayat kita sebelum diaudit oleh Allah SWT.
”Hitunglah dirimu sebelum dihitung oleh Allah dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang oleh Allah SWT”
Saat ini kita berada di hari pertama bulan Muharram yang berarti kita tengah memasuki tahun baru Islam 1431 H. Setiap kita memaasuki tahun baru Islam kita kembali diingatkan kepada suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah perjuangan Islam yaitu peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW beserta kaum muslimin lima belas abad yang lalu. Peristiwa itulah yang dijadikan awal perhitungan tahun Islam (عام هجري) atau kalender Miladiyah (ملادي تقويم ).
Peristiwa ini merupakan puncak kegetiran dan kesengsaraan yang dialami oleh Rasulullah SAW beserta kaum mulimin dalam membela dan mempertahankan Islam. Karena pada masa itu keadaan kaum muslimin benar-benar merasa sangat menderita dan terancam hidupnya yang kian hari selalu dimusuhi oleh kaum kafirin dan kaum musyrikin di Makkah. Kebencian mereka semakin meningkat setelah mereka mengetahui jumlah kaum muslimin semakin bertambah. Mereka tidak segan-segan melakukan penyiksaan terhadap kaum muslimin bahkan tidak sedikit kaum muslimin yang dibunuh secara keji (diseret di tengan terik matahari di padang pasir, disiksa dengan besi panas, ditombak perutnya dsb.). Keadaan inilah yang menyebabkan kaum muslimin merasa sangat ketakutan dan mereka selalu berusaha untuk menyelamatkan diri dengan berbagai cara sehingga Rasulullah merasa sangat sedih dan beliau memerintahkan kaum muslimin untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman yaitu Madinah (Yatsrib pada waktu itu). Tentu saja ini merupakan pekerjaan yang tidak ringan dan sangat mengerikan karena disamping jarak yang mereka tempuh sangat jauh (+ 500 km) dan tanpa kendaraan juga sangat berbahaya jika diketahui oleh kaum kafirin dan kaum musyrikin. Tetapi demi mempertahankan keyakinan terhadap Islam, meraka rela melakukannya meskipun mereka harus meninggalkan kampung halamannya, sanak keluarganya, rumah dan tanahnya serta seluruh harta benda yang dimilikinya. Selama berhari-hari mereka menempuh perjalanan yang sangat melelahkan dengan berjalan kaki atau dengan seekor unta dalam keadaan yang penuh ancaman. Dalam perjalanan ini tidak sedikit kaum muslimin yang meninggal dunia baik karena terbunuh atau karena kehabisan makanan dan sakit. Siang dan malam meraka melewati gunung-gunung, bebatuan yang terjal, padang pasir yang luas di bawah teriknya matahari atau di bawah derasnya angin malam.
Bagaimana dengan Rasulullah ? Beliau adalah orang yang terakhir melakukan hijrah. Ini membuktikan bahwa beliau adalah seorang pemimpin sejati yang tidak mementingkan diri sendiri. Beliau lebih mementingkan keselamatan kaum muslimin daripada keselamtan dirinya sendiri. Beliau baru akan melakukan hijrah setelah kaum muslimin yang lain telah berhijrah. Beliau rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan kaum muslimin. Keadaan ini diketahui oleh kaum kafirin dan kaum musyrikin Makkah sehingga mereka bersepakat untuk membunuh Rasulullah SAW. Meraka beranggapan dengan membunuh Rasulullah maka habislah Riwayat Islam. Sebelum melaksanakan aksinya terlebih dahulu mereka melakukan pertemuan tertutup di suatu tempat yang bernama ’Darunnadwah’ untuk menyusun rencana jahat mereka. Dalam pertemuan itu mereka menentukan para ekskutor yang terdiri dari perwakilan setiap suku yang ada di Makkah. Dan pada suatu malam yang telah mereka tentukan mereka melakukan pengepungan terhadap rumah Rasululla dengan persenjataan yang lengkap. Rasulullah pada waktu itu sedang bersama kemenakannya yaitu Sayidina Ali RA. Setelah beliau tahu akan hal ini beliau pun memerintahkan Ali untuk memakai sorbannya sebagai selimutnya sehingga para pendekar itu tidak menyangka kalau Rasulullah telah keluar pada malam itu. Dengan izin Allah beliau pun keluar melalui pintu belakang dan menuju rumah Abu Bakar Siddiq untuk segera berangkat hijrah pada malam itu dengan terlebih dahulu bersembunyi di gua Tsur selama tiga hari tiga malam. Tentu saja hal ini membuat panik para algojo yang ditugaskan untuk membunuh Rasulullah. Lalu mereka mencari ke sana ke mari tetapi tidak juga mendapatkannya meskipun mereka sempat berada di muka gua itu. Betapa takutnya Abu Bakar ketika melihat beberapa orang kafir berada di depan gua itu sehingga Rasulullah berkata :
”Wahai Abu bakar, kita memang berdua. Tetapi Allah adalah yang ketiga”
Ucapan ini pun diabadikan dalam Alqur’an Surat Attaubah : 40 :
”...janganlah kau takut dan janganlah kau bersedih sesungguhnya Allah bersama kita. Lalu Allah memberian ketenangan kepada mereka dan menambah kekuatannya dengan mengutus bala tentara yang tidak diketahui oleh mereka”
Begitulah penderitaan yang dialami oleh Rasulullah SAW beserta kaum muslimin pada masa itu dalam membela dan mempertahankan Islam.
Hal itu merpakan konsekwensi dari setiap orang beriman :
QS Alankabut ayat 2 dan 3 :
”Janganlah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ’kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka agar Allah mengetahui siapa sesungguhnya orang-orang yang benar dan siapa sesungguhnya orang-orang yang berdusta”
Bagaimana dengan kita saat ini? Apa yang telah kita perbuat untuk membela agama Islam? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Marilah kita melakukan hijrah bukan dalam arti pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Tetapi kita berhijrah yaitu dengan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT sesuai dengan sabda nabi :
”Orang-orang yang berhijrah itu ialah orang-orang yang mau meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah”
Marilah kita menjadikan momen Hijriyah ini untuk melakukan introspeksi berapa banyak amal yang telah kita lakukan dan berapa banyak kesalahan yang pernah kita lakukan. Marilah kita selalu mengaudit amal kita sepanjang hayat kita sebelum diaudit oleh Allah SWT.
”Hitunglah dirimu sebelum dihitung oleh Allah dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang oleh Allah SWT”
LARANGAN BERBUAT ZALIM
LARANGAN BERBUAT ZALIM
”Janganlah kamu berbuat zalim dan janganlah kamu dizalimi” Qs : 2 : 279
Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman :
”Wahai hambaku sesungguhnya aku mengharamkan berbuat zalim atas diriku dan aku jadikan zalim itu adalah sesuatu yang diharamkan karena itu janganlah kamu berbuat zalim”
Islam adalah agama yang telah mengatur segala aspek kehidupan manusia secara lengkap sejak manusia itu lahir sampai meninggal baik dalam berhubungan kepada Allah (khalik) maupun kepada sesama manusia. Semua itu ditujukan agar manusia dapat hidp bahagia di dunia maupun di akhirat ’Lisa’aadatilbasyari fii ma’aasyihim wama’aadihim’. Karena itu Allah telah melengkapi aturan itu dengan perintah dan larangan, ada yang dihalalkan dan ada yang diharamkan, ada yang boleh dilakukan dan ada yang tidak boleh dilakukan. Semuanya sangat jelas ’Yang hala itu jelas dan yang haram itu jelas’. Apabila ditaati pasti semua akan beres dan pasti bermaslahat bagi manusia. Salah satu perbuatan sangat diharamkan oleh Allah adalah perbuatan zalim sebagaimana Firman Allah di awal khutbah tadi.
Allah juga berfirman :
Qs Suura 31 :
”Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu pelindung dan penolong”(Alisraa : 82)
”Dan tiadalah menambah orang-orang zalim itu kecuali kerugian”
Nabi bersabda :
”Berhati-hatilah kamu dengan perbuatan zalim karena sesungguhnya kezaliman itu adalah suatu kegelapan di hari kiamat dan berhati-hatilah kamu dengan perbuatan kikir karena kekikiran itu telah menghancurkan orang-orang sebelum kamu sebelum kamu”
Oleh karena itu marilah kita menghindari perbuatan zalim yaitu segala perbuatan yang merugikan orang lain dan menyakiti orang lain serta segala perbuatan yang merampas hak orang lain. Karena sekecil apa pun perbuatan zalim yang kita lakukan akan dibalas oleh Allah SWT.
Rasul bersabda :
”Barangsiapa yang berbuat zalim (mengambil hak orang lain) walaupun sejengkal tanah maka kelak akan dikalungkan kepadanya hingga tujuh petala bumi”
Dalam hadits lain nabi juga bersabda :
”Barangsiapa yang mengambil hak seorang muslim maka Allah mewajibkan kepadanya masuk neraka dan mengharamkan masuh kedalam surga”
Sahabat bertanya : ”Walaupun sedikit ya Rasulullah?”
Rasul menjawab : ”Ya, walaupun hanya sepotong kayu”
Begitulah Islam telah mengatur kehidupan manusia agar manusia itu dapat hidup tenteram dan damai.
Namun kenyataannya tidak sedikit manusia yang justru bangga dengan kezalimannya, dia bangga jika bisa menyakiti orang lain.
Firman Allah Qs Ibrahim 34 :
”Sesungguhnya kebanyakan manusia itu berbuat zalim dan kufur”
Mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya. Amiin.
Oleh karena itu jangan ada terlintas di hati kita untuk berbuat zalim dan marilah kita menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.
”Barangsiapa yang bangun pagi-pagi dan tidak berniat untuk berbuat zalim kepada seseorang maka Allah akn mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan barangsiapa yang bangun pagi-pagi dan berniat untuk menolong orang yang teraniaya dan berniat untuk memenuhi kebutuhan orang muslim maka baginya pahala seperti pahala haji mabrur”
Mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya. Amiin
Rasul juga bersabda :
”Ada dua macam yang tidak ada yang lebih utama dari keduanya, yaitu :
Beriman kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama muslim”
Dan tidak ada yang lebih keji dari keduanya yaitu : Berbuat syirik dan menyakiti sesama msulim”
”Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang dapat memberi manfaat kepada sesama manusia”
”Janganlah kamu berbuat zalim dan janganlah kamu dizalimi” Qs : 2 : 279
Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman :
”Wahai hambaku sesungguhnya aku mengharamkan berbuat zalim atas diriku dan aku jadikan zalim itu adalah sesuatu yang diharamkan karena itu janganlah kamu berbuat zalim”
Islam adalah agama yang telah mengatur segala aspek kehidupan manusia secara lengkap sejak manusia itu lahir sampai meninggal baik dalam berhubungan kepada Allah (khalik) maupun kepada sesama manusia. Semua itu ditujukan agar manusia dapat hidp bahagia di dunia maupun di akhirat ’Lisa’aadatilbasyari fii ma’aasyihim wama’aadihim’. Karena itu Allah telah melengkapi aturan itu dengan perintah dan larangan, ada yang dihalalkan dan ada yang diharamkan, ada yang boleh dilakukan dan ada yang tidak boleh dilakukan. Semuanya sangat jelas ’Yang hala itu jelas dan yang haram itu jelas’. Apabila ditaati pasti semua akan beres dan pasti bermaslahat bagi manusia. Salah satu perbuatan sangat diharamkan oleh Allah adalah perbuatan zalim sebagaimana Firman Allah di awal khutbah tadi.
Allah juga berfirman :
Qs Suura 31 :
”Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu pelindung dan penolong”(Alisraa : 82)
”Dan tiadalah menambah orang-orang zalim itu kecuali kerugian”
Nabi bersabda :
”Berhati-hatilah kamu dengan perbuatan zalim karena sesungguhnya kezaliman itu adalah suatu kegelapan di hari kiamat dan berhati-hatilah kamu dengan perbuatan kikir karena kekikiran itu telah menghancurkan orang-orang sebelum kamu sebelum kamu”
Oleh karena itu marilah kita menghindari perbuatan zalim yaitu segala perbuatan yang merugikan orang lain dan menyakiti orang lain serta segala perbuatan yang merampas hak orang lain. Karena sekecil apa pun perbuatan zalim yang kita lakukan akan dibalas oleh Allah SWT.
Rasul bersabda :
”Barangsiapa yang berbuat zalim (mengambil hak orang lain) walaupun sejengkal tanah maka kelak akan dikalungkan kepadanya hingga tujuh petala bumi”
Dalam hadits lain nabi juga bersabda :
”Barangsiapa yang mengambil hak seorang muslim maka Allah mewajibkan kepadanya masuk neraka dan mengharamkan masuh kedalam surga”
Sahabat bertanya : ”Walaupun sedikit ya Rasulullah?”
Rasul menjawab : ”Ya, walaupun hanya sepotong kayu”
Begitulah Islam telah mengatur kehidupan manusia agar manusia itu dapat hidup tenteram dan damai.
Namun kenyataannya tidak sedikit manusia yang justru bangga dengan kezalimannya, dia bangga jika bisa menyakiti orang lain.
Firman Allah Qs Ibrahim 34 :
”Sesungguhnya kebanyakan manusia itu berbuat zalim dan kufur”
Mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya. Amiin.
Oleh karena itu jangan ada terlintas di hati kita untuk berbuat zalim dan marilah kita menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.
”Barangsiapa yang bangun pagi-pagi dan tidak berniat untuk berbuat zalim kepada seseorang maka Allah akn mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan barangsiapa yang bangun pagi-pagi dan berniat untuk menolong orang yang teraniaya dan berniat untuk memenuhi kebutuhan orang muslim maka baginya pahala seperti pahala haji mabrur”
Mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya. Amiin
Rasul juga bersabda :
”Ada dua macam yang tidak ada yang lebih utama dari keduanya, yaitu :
Beriman kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama muslim”
Dan tidak ada yang lebih keji dari keduanya yaitu : Berbuat syirik dan menyakiti sesama msulim”
”Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang dapat memberi manfaat kepada sesama manusia”
KONSEP PENDIDIKAN DALAM ISLAM
PRINSIP PENDIDIKAN dalam ISLAM
QS Almujadilah 11
Beberapa hari yang lalu tepatnya pada tanggal 2 Mei 2010 bangsa Indonesia memperingati hari pendidikan nasional sebagai hari yang dianggap penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Hal itu dinisbatkan kepada kelahiran seorang pelopor pendidikan di Indonesia yang bernama Ki Hajar Dewantara yang hidup pada sekitar awal abad ke-20. Salah satu alasan penting mengapa hari pendidikan nasional itu diperingati adalah karena pendidikan telah memberikan kontribusi yang besar dalam perjuangan bangsa Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Pendidikan juga mempunyai peranan yang sangat penting/faktor yang sangat menentukan/master dalam pembangunan dan membentuk keperibadian bangsa (Nation character building). Karena pendidikan akan memberikan warna dalam kehidupan bangsa dan Negara pada saat ini dan pada masa yang akan datang. Jika kita ingin melihat bagaimana kondisi bangsa kita pada masa yang akan datang maka lihatlah bagaimana pendidikannya pada saat ini. Peradaban suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh pendidikan bangsa itu sendiri. Lima belas abad yang lalu Rasulullah telah mengingatkan kita dalam sabdanya :
“Didiklah anak-anakmu karena nanti akan datang suatu masa/keadaan yang berbeda dengan keadaan sekarang”
Allah juga memerinkahkan kita untuk mempersiapkan generasi penerus yang tangguh agar bisa meneruskan perjuangan para pendahulunya. QS Annisa :9 :
"Dan hendaklah mereka takut jika meninggalkan keturunan yang lemah yang mereka khawatiri keselamatannya".
Bahkan ayat yang pertama kali diturunkankan oleh Allah adalah ayat tentang perintah membaca (QS Al-Alaq : 1-5)
Dengan demikian Islam telah mencanangkan pendidikan jauh hari sebelum bangsa kita mengenal pendidikan. Jika dalam Negara kita dikenal istilah konsep pendidikan dengan sebutan Wajib belajar Sembilan tahun, islam menyatakan bahwa konsep pendidikan seumur hidup (long life education).
Ada persoalan besar yang sedang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia saat ini yaitu dunia pendidikan belum mampu membentuk kepribadian bangsa hingga saat ini sehingga begitu banyak orang pintar tetapi tidak bias menjadi orang yang benar. Mengapa hal ini bias terjadi ?
Hal itu disebabkan karena belum adanya keseimbangan antara pendidikan jasmani dan rohani, antara intelektualitas dan spiritualitas, antara pendidikan yang bersafat fisik dan mental, antara pendidikan umum dan pendidikan agama, antara pendidikan iman dan ilmu sehingga peranan pendidikan dalam membentuk keperibadian bangsa masih dipertanyakan.
UU pendidikan nasional telah mengamanatkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang beriman dan berakhlak mulia tetapi dalam pelaksanaannya justru bertolak belakang. Pendidikan yang dilaksanakan lebih mengedepankan aspek zahiriyah ketimbang aspek batiniyah, lebih mengedepankan intelaktualitas ketimbang aspek spiritualitas, lebih mengedepankan kecerdasan otak ketimbang pembentukan watak. Akibatnya semakin banyak orang pintar tetapi tidak benar, semakin banyak orang yang serdas otaknya tetapi tidak berwatak. Inilah yang terjadi dalam Negara kita sekarang ini. Pertikaian demi pertikaian terus terjadi, perselisihan demi perselisihan tiada henti, carut marut bangsa ini terus terjadi yang bukan dilakukan oleh orang-orang bodoh tetapi dilakukan oleh orang-orang yang pintar. Sampai-sampai tiada hari tanpa pertikaian baik dalam bidang politik maupun dalam bidang hukum.
Oleh karena itu marilah kita kembali kepada prinsip Alqur’an tentang pendidikan. Pendidikan harus seimbang (balance) antara pendidikan keimanan dan pendidikan ilmu, antara fikir dan zikir, antara pendidikan jasmani dan rohani, antara fisik dan mental, antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat, antara peningkatan otak dan pembentukan watak. Yang harus dikedpankan adalah iman baru ilmu bukan sebaliknya. QS Almujadilah : 11 dan Ali Imran 190-191.
"Allah akan memuliakan(meninggikan) orang-orang yang beriman dianatara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan akan beberapa derajat kemuliaan dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Orang bijak mengatakan :
"Ilmu tanpa iman akan buta dan iman tanpa ilu akan lemah"
"Knowlege without religion is blind and religion without knowledge is lame"
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM 2
Allah berfirman :
”Mintalah maaf dan serukanlah kebaikan dan berpalinglah dari kebodohan”
Dalam sebuah buku yang berjudul
dinyatakan bahwa penyebab kemunduran ummat Islam adalah BODOH dan KEBODOHAN.
Agama Islam adalah agama yang sangat mengutamakan pendidikan dan anti kebodohan karena itu ayat yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca. (QS Al ’Alaq : 1-5)
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan ummat dan pembangunan moral bangsa (Nation character building).
Jika kita ingin melihat bagaimana keadaan ummat dan bangsa kita pada masa yang akan datang akan sangat tergantung kepada bagaimana pendidikannya saat ini dan bagaimana keadaan ummat pada saat ini juga merupakan hasil pendidikan pada masa yang lalu.
Pendidikan adalah merupakan master penentu dalam mencapai keberhasilan pembangunan ummat dan bangsa masa kita kini dan masa yang akan datang. Karena itu benarlah jikalau jauh-jauh hari Rasulullah sudah memerintahkan kita untuk mendidik anak-anak kita untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan masa yang akan datang. Sabdanya :
"Didiklan anak-anakmu karena sesungguhnya nanti akan datang suatu masa yang jauh berbeda dengan keadaanmu sekarang ini".
Allah juga memerinkahkan kita untuk mempersiapkan generasi penerus yang tangguh agar bisa meneruskan perjuangan para pendahulunya. QS Annisa :9 :
"Dan hendaklah mereka takut jika meninggalkan keturunan yang lemah yang mereka khawatiri keselamatannya".
Tetapi Allah juga mengingatkan kita agar pendidikan itu tidak membuat lupa kepada Allah. Karena itu pendidikan harus dilandasi keimanan kepada Allah SWT
QS Almujadilah : 11. dan Albaqoroh 190.
"Allah akan memuliakan orang-orang yang beriman dianatara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan akan beberapa derajat kemuliaan"
Dari ayat itu jelas sekali Allah menyuruh kita agar pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan semata-mata tetapi juga harus dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. agar semakin pintar manusia semakin dekat kepada Allah SWT bukan sebaliknya seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :
”Barangsiapa yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah hidayahnya maka tidak bertambah dekat kepada Allah tetapi semakin jauh dari Allah”
Inilah yang terjadi sekarang ini begitu banyak orang pintar tetapi kepintarannya digunakan untuk merugikan orang lain karena mereka hanya mengutamakan ilmu pengetahuan semata-mata tetapi tidak mengutamakan ilmu yang dapat meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
"Ilmu tanpa iman akan buta dan iman tanpa ilu akan lemah" Begitulah pepatah modern mengatakan. "Knowlege without religion is blind and religion without knowledge is lame"
Karena itu pendidkan yang dilaksanakan haruslah balance (seimbang) antara pikir dan zikir, antara iman dan ilmu, antara zahir dan batin, antara fisik dan mental, antara jasmaniyah dan rohaniyah, anatara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat.
UU pendidikan yang dibuat dalam negara kita juga telah mengamanatkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk manusia yang beriman dan berakhlak mulia, beriman dan bertakwa, tetapi dalam pelaksanaannya justru sangat bertolak belakang. Pendidikan yang dilaksanakan hanyalah pendidikan yang bersifat zahiriyah yang hanya mengejar nilai dan angka-angka, pendidikan yang hanya berorientasi kepada aspek materi yang pada akhirnya akan melahirkan manusia-manusia yang materialis, komersialis dan individualis. Akibatnya manusia hanya mengukuir keberhasilan dengan banyaknya materi yang dimiliki tanpa melihat seberapa besar ushanya dan seberapa besar jasanya untuk kepentingan bangsa dan agama serta ummat ini. Setiap orang hanya berfikir bagaimana mencari materi sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan halal atau haram. Nauzubillah.
QS Almujadilah 11
Beberapa hari yang lalu tepatnya pada tanggal 2 Mei 2010 bangsa Indonesia memperingati hari pendidikan nasional sebagai hari yang dianggap penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Hal itu dinisbatkan kepada kelahiran seorang pelopor pendidikan di Indonesia yang bernama Ki Hajar Dewantara yang hidup pada sekitar awal abad ke-20. Salah satu alasan penting mengapa hari pendidikan nasional itu diperingati adalah karena pendidikan telah memberikan kontribusi yang besar dalam perjuangan bangsa Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Pendidikan juga mempunyai peranan yang sangat penting/faktor yang sangat menentukan/master dalam pembangunan dan membentuk keperibadian bangsa (Nation character building). Karena pendidikan akan memberikan warna dalam kehidupan bangsa dan Negara pada saat ini dan pada masa yang akan datang. Jika kita ingin melihat bagaimana kondisi bangsa kita pada masa yang akan datang maka lihatlah bagaimana pendidikannya pada saat ini. Peradaban suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh pendidikan bangsa itu sendiri. Lima belas abad yang lalu Rasulullah telah mengingatkan kita dalam sabdanya :
“Didiklah anak-anakmu karena nanti akan datang suatu masa/keadaan yang berbeda dengan keadaan sekarang”
Allah juga memerinkahkan kita untuk mempersiapkan generasi penerus yang tangguh agar bisa meneruskan perjuangan para pendahulunya. QS Annisa :9 :
"Dan hendaklah mereka takut jika meninggalkan keturunan yang lemah yang mereka khawatiri keselamatannya".
Bahkan ayat yang pertama kali diturunkankan oleh Allah adalah ayat tentang perintah membaca (QS Al-Alaq : 1-5)
Dengan demikian Islam telah mencanangkan pendidikan jauh hari sebelum bangsa kita mengenal pendidikan. Jika dalam Negara kita dikenal istilah konsep pendidikan dengan sebutan Wajib belajar Sembilan tahun, islam menyatakan bahwa konsep pendidikan seumur hidup (long life education).
Ada persoalan besar yang sedang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia saat ini yaitu dunia pendidikan belum mampu membentuk kepribadian bangsa hingga saat ini sehingga begitu banyak orang pintar tetapi tidak bias menjadi orang yang benar. Mengapa hal ini bias terjadi ?
Hal itu disebabkan karena belum adanya keseimbangan antara pendidikan jasmani dan rohani, antara intelektualitas dan spiritualitas, antara pendidikan yang bersafat fisik dan mental, antara pendidikan umum dan pendidikan agama, antara pendidikan iman dan ilmu sehingga peranan pendidikan dalam membentuk keperibadian bangsa masih dipertanyakan.
UU pendidikan nasional telah mengamanatkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang beriman dan berakhlak mulia tetapi dalam pelaksanaannya justru bertolak belakang. Pendidikan yang dilaksanakan lebih mengedepankan aspek zahiriyah ketimbang aspek batiniyah, lebih mengedepankan intelaktualitas ketimbang aspek spiritualitas, lebih mengedepankan kecerdasan otak ketimbang pembentukan watak. Akibatnya semakin banyak orang pintar tetapi tidak benar, semakin banyak orang yang serdas otaknya tetapi tidak berwatak. Inilah yang terjadi dalam Negara kita sekarang ini. Pertikaian demi pertikaian terus terjadi, perselisihan demi perselisihan tiada henti, carut marut bangsa ini terus terjadi yang bukan dilakukan oleh orang-orang bodoh tetapi dilakukan oleh orang-orang yang pintar. Sampai-sampai tiada hari tanpa pertikaian baik dalam bidang politik maupun dalam bidang hukum.
Oleh karena itu marilah kita kembali kepada prinsip Alqur’an tentang pendidikan. Pendidikan harus seimbang (balance) antara pendidikan keimanan dan pendidikan ilmu, antara fikir dan zikir, antara pendidikan jasmani dan rohani, antara fisik dan mental, antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat, antara peningkatan otak dan pembentukan watak. Yang harus dikedpankan adalah iman baru ilmu bukan sebaliknya. QS Almujadilah : 11 dan Ali Imran 190-191.
"Allah akan memuliakan(meninggikan) orang-orang yang beriman dianatara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan akan beberapa derajat kemuliaan dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Orang bijak mengatakan :
"Ilmu tanpa iman akan buta dan iman tanpa ilu akan lemah"
"Knowlege without religion is blind and religion without knowledge is lame"
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM 2
Allah berfirman :
”Mintalah maaf dan serukanlah kebaikan dan berpalinglah dari kebodohan”
Dalam sebuah buku yang berjudul
dinyatakan bahwa penyebab kemunduran ummat Islam adalah BODOH dan KEBODOHAN.
Agama Islam adalah agama yang sangat mengutamakan pendidikan dan anti kebodohan karena itu ayat yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca. (QS Al ’Alaq : 1-5)
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan ummat dan pembangunan moral bangsa (Nation character building).
Jika kita ingin melihat bagaimana keadaan ummat dan bangsa kita pada masa yang akan datang akan sangat tergantung kepada bagaimana pendidikannya saat ini dan bagaimana keadaan ummat pada saat ini juga merupakan hasil pendidikan pada masa yang lalu.
Pendidikan adalah merupakan master penentu dalam mencapai keberhasilan pembangunan ummat dan bangsa masa kita kini dan masa yang akan datang. Karena itu benarlah jikalau jauh-jauh hari Rasulullah sudah memerintahkan kita untuk mendidik anak-anak kita untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan masa yang akan datang. Sabdanya :
"Didiklan anak-anakmu karena sesungguhnya nanti akan datang suatu masa yang jauh berbeda dengan keadaanmu sekarang ini".
Allah juga memerinkahkan kita untuk mempersiapkan generasi penerus yang tangguh agar bisa meneruskan perjuangan para pendahulunya. QS Annisa :9 :
"Dan hendaklah mereka takut jika meninggalkan keturunan yang lemah yang mereka khawatiri keselamatannya".
Tetapi Allah juga mengingatkan kita agar pendidikan itu tidak membuat lupa kepada Allah. Karena itu pendidikan harus dilandasi keimanan kepada Allah SWT
QS Almujadilah : 11. dan Albaqoroh 190.
"Allah akan memuliakan orang-orang yang beriman dianatara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan akan beberapa derajat kemuliaan"
Dari ayat itu jelas sekali Allah menyuruh kita agar pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan semata-mata tetapi juga harus dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. agar semakin pintar manusia semakin dekat kepada Allah SWT bukan sebaliknya seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :
”Barangsiapa yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah hidayahnya maka tidak bertambah dekat kepada Allah tetapi semakin jauh dari Allah”
Inilah yang terjadi sekarang ini begitu banyak orang pintar tetapi kepintarannya digunakan untuk merugikan orang lain karena mereka hanya mengutamakan ilmu pengetahuan semata-mata tetapi tidak mengutamakan ilmu yang dapat meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
"Ilmu tanpa iman akan buta dan iman tanpa ilu akan lemah" Begitulah pepatah modern mengatakan. "Knowlege without religion is blind and religion without knowledge is lame"
Karena itu pendidkan yang dilaksanakan haruslah balance (seimbang) antara pikir dan zikir, antara iman dan ilmu, antara zahir dan batin, antara fisik dan mental, antara jasmaniyah dan rohaniyah, anatara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat.
UU pendidikan yang dibuat dalam negara kita juga telah mengamanatkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk manusia yang beriman dan berakhlak mulia, beriman dan bertakwa, tetapi dalam pelaksanaannya justru sangat bertolak belakang. Pendidikan yang dilaksanakan hanyalah pendidikan yang bersifat zahiriyah yang hanya mengejar nilai dan angka-angka, pendidikan yang hanya berorientasi kepada aspek materi yang pada akhirnya akan melahirkan manusia-manusia yang materialis, komersialis dan individualis. Akibatnya manusia hanya mengukuir keberhasilan dengan banyaknya materi yang dimiliki tanpa melihat seberapa besar ushanya dan seberapa besar jasanya untuk kepentingan bangsa dan agama serta ummat ini. Setiap orang hanya berfikir bagaimana mencari materi sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan halal atau haram. Nauzubillah.
KEUTAMAAN SODAQOH
KEUTAMAAN SODAQOH
QS Albaqoroh 261 :
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti menanam sebutir biji yang dapat menumbuhkan tujuh buah tangkai dan pada tiap-tiap tangkai itu terdapat seratus butir biji. Demikianlah Allah melipatgandakan pahalanya bagi siapa yang dikehendaki dan seseungguhnya Allah maha luas rahmatnya lagi maha mengetahui”.
Ayat tersebut menyatakan dengan jelas bahwa orang yang menafkahkan hartanya di jalan allah akan dilipatgandakan pahalanya sampai 700 kali. Bukan hanya balasan di akhirat tetapi juga balasan di dunia. Firman Alaah :
“Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan diganti oleh Allah SWT”
Senada dengan ayat tersebut Rasulullah SAW bersabda :
“Tidak akan berkurang harta seseorang lantaran bersodaqoh bahkan bertambah dan bertambah”
Tetapi kebanyakan manusia mengira jika mereka mengeluarkan harta untuk bersodaqoh maka hartanya akan menjadi berkurang sehingga mereka menjadi bakhil (kikir dan pelit) dan enggan bersodaqoh karena mereka menganggap bahwa harta yang diperolehnya adalah hasil jerih payahnya sendiri. Padahal apapun yang diperolehnya baik berupa hata benda, kesehatan dan lain-lain semua itu merupakan anugrah dari Allah SWT yang di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan baik yang wajib maupun yang sunnah. Yang wajib adalah zakat sesuai dengan ketentuan dan yang sunnah adalah sodaqoh atau infaq di jalan Allah seperti untuk anak yatim fakir miskin, pembangunan masjid, pembangunan sarana pendidikan, untuk kegiatan-kegiatan agama dsb.
Oleh karena itu marilah kita segera berinfaq di jalan Allah baik dalam keadaan senag ataupun dalam keadaan susuah, baik secara sembunyi ataupun secara terang-terangan seberapapun kemampuan kita walaupun hanya sebutir kurma ( ) selagi ada kesempatan, selagi kita mampu, selagi kita memiliki harta, jangan sampai menunggu harta kita habis atau menunggu kita kaya karena belum tentu di waktu yang akan datang kita mampu dan belum tentu harta itu berada di tangan kita karena harta itu adalah bayangan yang mudah hilang seketika. Apabila Allah menghendaki maka harta itu bisa lenyap atau musnah seketika dan hal itu sangat mudah bagi Allah.
Janganlah menjadi orang bakhil (kikir/pelit) tetapi jadilah orang yang pemurah. Rasulullah bersabda :
“Orang yang bakhil itu adalah musuhnya Allah”
“Orang yang bakhil itu sangat dekat kepada neraka dan sangat jauh dari surga dan sebaliknya orang yang pemurah itu sangat dekat kepada surga dan sangat jauh dari neraka”
Allah akan menyiksa orang-orang yang hanya menumpuk hartanya tanpa mengeluarkan hartanya di jalan Allah : QS Attaubah 35
Hakikat harta kita yang sebenarnya adalah harta yang kita keluarkan di jalan Allah. QS Assahaf 10 – 11.
QS Albaqoroh 261 :
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti menanam sebutir biji yang dapat menumbuhkan tujuh buah tangkai dan pada tiap-tiap tangkai itu terdapat seratus butir biji. Demikianlah Allah melipatgandakan pahalanya bagi siapa yang dikehendaki dan seseungguhnya Allah maha luas rahmatnya lagi maha mengetahui”.
Ayat tersebut menyatakan dengan jelas bahwa orang yang menafkahkan hartanya di jalan allah akan dilipatgandakan pahalanya sampai 700 kali. Bukan hanya balasan di akhirat tetapi juga balasan di dunia. Firman Alaah :
“Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan diganti oleh Allah SWT”
Senada dengan ayat tersebut Rasulullah SAW bersabda :
“Tidak akan berkurang harta seseorang lantaran bersodaqoh bahkan bertambah dan bertambah”
Tetapi kebanyakan manusia mengira jika mereka mengeluarkan harta untuk bersodaqoh maka hartanya akan menjadi berkurang sehingga mereka menjadi bakhil (kikir dan pelit) dan enggan bersodaqoh karena mereka menganggap bahwa harta yang diperolehnya adalah hasil jerih payahnya sendiri. Padahal apapun yang diperolehnya baik berupa hata benda, kesehatan dan lain-lain semua itu merupakan anugrah dari Allah SWT yang di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan baik yang wajib maupun yang sunnah. Yang wajib adalah zakat sesuai dengan ketentuan dan yang sunnah adalah sodaqoh atau infaq di jalan Allah seperti untuk anak yatim fakir miskin, pembangunan masjid, pembangunan sarana pendidikan, untuk kegiatan-kegiatan agama dsb.
Oleh karena itu marilah kita segera berinfaq di jalan Allah baik dalam keadaan senag ataupun dalam keadaan susuah, baik secara sembunyi ataupun secara terang-terangan seberapapun kemampuan kita walaupun hanya sebutir kurma ( ) selagi ada kesempatan, selagi kita mampu, selagi kita memiliki harta, jangan sampai menunggu harta kita habis atau menunggu kita kaya karena belum tentu di waktu yang akan datang kita mampu dan belum tentu harta itu berada di tangan kita karena harta itu adalah bayangan yang mudah hilang seketika. Apabila Allah menghendaki maka harta itu bisa lenyap atau musnah seketika dan hal itu sangat mudah bagi Allah.
Janganlah menjadi orang bakhil (kikir/pelit) tetapi jadilah orang yang pemurah. Rasulullah bersabda :
“Orang yang bakhil itu adalah musuhnya Allah”
“Orang yang bakhil itu sangat dekat kepada neraka dan sangat jauh dari surga dan sebaliknya orang yang pemurah itu sangat dekat kepada surga dan sangat jauh dari neraka”
Allah akan menyiksa orang-orang yang hanya menumpuk hartanya tanpa mengeluarkan hartanya di jalan Allah : QS Attaubah 35
Hakikat harta kita yang sebenarnya adalah harta yang kita keluarkan di jalan Allah. QS Assahaf 10 – 11.
KEUTAMAAN BULAN RAJAB
FADHILAH BULAN RAJAB
Tasyakur dan wasiat Taqwa
Pada saat ini kita memasuki pertengahan bulan Rajab, bulan ketujuh dalam perhitungan tahun hijriyah. Bulan rajab ini adajh salah satu bulan yang dihormati dan dimuliakan oleh Allah sebagaimana firmannya QS Attaubah 36
”Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan dalam keketapan allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi diantaranya ada empat bulan yang dihormati..”
Diantara empat bulan itu ialah bulan Rajab yang mengandung arti keagungan atau kebesaran Allah karena pada bulan ini Allah telah membuktikan keagungannya dengan mengisra’kan dan memi’rajkan Nabi besar kita Muhammad SAW.
Rasulullah bersabda :
”Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan saat kita amenanam dan bulan Sya’ban adalah bulan saat kita menyiram dan bulan Ramadhan adalah bulan saatb kita memanen hasil yang kita tanam”.
Artinya jika kita ingin memanen pada bulan Ramadhan maka kita harus terlebih dahulu menanamnya dan menyiramnya. Oleh karena itu marilah kita memanfaatklan bulan rajab ini untuk menanam kebaikan dan kita mengisi dengan bertaubat kepada allah dengan taubat yang sesungguhnya. Firman Allah Qs Attahrim 6 ;
”wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurniu-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan ke dalam syurganya yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..”
Rasulullah telah mengajarkan doa dalam bulan Rajab ini yaitu :
Marilah kita memperbanya doa ini agar dosa-dosa kita diampuni oleh allah SWT.
Tasyakur dan wasiat Taqwa
Pada saat ini kita memasuki pertengahan bulan Rajab, bulan ketujuh dalam perhitungan tahun hijriyah. Bulan rajab ini adajh salah satu bulan yang dihormati dan dimuliakan oleh Allah sebagaimana firmannya QS Attaubah 36
”Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan dalam keketapan allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi diantaranya ada empat bulan yang dihormati..”
Diantara empat bulan itu ialah bulan Rajab yang mengandung arti keagungan atau kebesaran Allah karena pada bulan ini Allah telah membuktikan keagungannya dengan mengisra’kan dan memi’rajkan Nabi besar kita Muhammad SAW.
Rasulullah bersabda :
”Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan saat kita amenanam dan bulan Sya’ban adalah bulan saat kita menyiram dan bulan Ramadhan adalah bulan saatb kita memanen hasil yang kita tanam”.
Artinya jika kita ingin memanen pada bulan Ramadhan maka kita harus terlebih dahulu menanamnya dan menyiramnya. Oleh karena itu marilah kita memanfaatklan bulan rajab ini untuk menanam kebaikan dan kita mengisi dengan bertaubat kepada allah dengan taubat yang sesungguhnya. Firman Allah Qs Attahrim 6 ;
”wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurniu-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan ke dalam syurganya yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..”
Rasulullah telah mengajarkan doa dalam bulan Rajab ini yaitu :
Marilah kita memperbanya doa ini agar dosa-dosa kita diampuni oleh allah SWT.
KESEIMBANGAN DUNIA KAHIRAT
KESEIMBANGAN DUNIA DAN AKHIRAT
Setiap manusia selalu bercita-cita-cita ingin memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Karena itu mereka berusaha untuk mengejar kebahagiaan itu dengan berbagai cara. Ada yang memandang kebahagiaan itu hanya dari segi materi akhirnya mereka berusaha mengejar kebahagiaan dengan cara mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya karena mereka menganggap bahwa dengan harta yang banyak mereka bisa berbuat apa saja. Ada yang berusaha untuk mengejar pangkat yang setinggi-tingginya karena dengan pangkat itu mereka menganggap akan bahaga. Tetapi apa yang diharapkan ternyata tidak diperolehnya karena semakin mengejar harta manusia semakin berkurang. Seandainya mereka sudah memiliki satu gunung emas pasti ingin gunung yang kedua dst.
Kebahagiaan dalam pandangan Islam itu tidak hanya dari segi jasmani tetapi juga rohani karena kebahagiaan dalam Islam itu tidak hanya kebahagiaan di dunia tetapi juga kebahagiaan di akhirat sebagaimana doa yang selalu kita ucapkan :
Islam adalah agama yang universal yang tidak hanya diperuntukkan untuk kepentingan dunia tetapi juga untuk kepentingan akhirat : QS Alqasas 77.
Rasulullah juga bersabda :
”Bekerjalah untuk duniamu dst.”
Jadi tidaklah benar jika ada yang mengatakan bahwa Islam hanya ditujukan untuk kepentingan akhirat atau sebaliknya.
Tetapi apapun yang kita usahakan tidak boleh bertentangan dengan aturan-aturan Allah SWT. Karena semua yang diperbuat oleh manusia di dunia ini akn dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.
”Hiduplah sesuka hatimu dst.
Selama manusia mengikuti atiuran-aturan Allah pasti akan selamat dunia dan akhirat dan sebaliknya apabila manusia keluar dari ketrentuan Allah pasti akan celaka baik di dunia maupuj di akhirat.
Oleh karena itu marilah kita menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat agar kita memperoleh kebahagiaan yang hakiki yaitun kebahagoiaan kahirat.
QS Albaqoroh : 197 QS Ali Imran 183
Ibnu Umar berkata :Jadilah kamu di dunia ini sepetrti orang Asing atau pengembara yang pada satu saat akan kembali”Nabi bersabda :”Dunia ini hanyalah ladang untuk bercocok tanam untuk kepentingan akhirat”
Setiap manusia selalu bercita-cita-cita ingin memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Karena itu mereka berusaha untuk mengejar kebahagiaan itu dengan berbagai cara. Ada yang memandang kebahagiaan itu hanya dari segi materi akhirnya mereka berusaha mengejar kebahagiaan dengan cara mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya karena mereka menganggap bahwa dengan harta yang banyak mereka bisa berbuat apa saja. Ada yang berusaha untuk mengejar pangkat yang setinggi-tingginya karena dengan pangkat itu mereka menganggap akan bahaga. Tetapi apa yang diharapkan ternyata tidak diperolehnya karena semakin mengejar harta manusia semakin berkurang. Seandainya mereka sudah memiliki satu gunung emas pasti ingin gunung yang kedua dst.
Kebahagiaan dalam pandangan Islam itu tidak hanya dari segi jasmani tetapi juga rohani karena kebahagiaan dalam Islam itu tidak hanya kebahagiaan di dunia tetapi juga kebahagiaan di akhirat sebagaimana doa yang selalu kita ucapkan :
Islam adalah agama yang universal yang tidak hanya diperuntukkan untuk kepentingan dunia tetapi juga untuk kepentingan akhirat : QS Alqasas 77.
Rasulullah juga bersabda :
”Bekerjalah untuk duniamu dst.”
Jadi tidaklah benar jika ada yang mengatakan bahwa Islam hanya ditujukan untuk kepentingan akhirat atau sebaliknya.
Tetapi apapun yang kita usahakan tidak boleh bertentangan dengan aturan-aturan Allah SWT. Karena semua yang diperbuat oleh manusia di dunia ini akn dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.
”Hiduplah sesuka hatimu dst.
Selama manusia mengikuti atiuran-aturan Allah pasti akan selamat dunia dan akhirat dan sebaliknya apabila manusia keluar dari ketrentuan Allah pasti akan celaka baik di dunia maupuj di akhirat.
Oleh karena itu marilah kita menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat agar kita memperoleh kebahagiaan yang hakiki yaitun kebahagoiaan kahirat.
QS Albaqoroh : 197 QS Ali Imran 183
Ibnu Umar berkata :Jadilah kamu di dunia ini sepetrti orang Asing atau pengembara yang pada satu saat akan kembali”Nabi bersabda :”Dunia ini hanyalah ladang untuk bercocok tanam untuk kepentingan akhirat”
Langganan:
Postingan (Atom)